Mereka: Sebuah makna
September 9, 2008 by itsjustanggie
Pernah engga sih kamu merenung sebentar dan menyadari bahwa orang-orang yang ada atau pernah ada di sekitar kamu tuh ternyata bermaknaaaa banget? Bisa kasih kamu pengaruh yang besar banget? Hingga kamu bisa jadi dirimu yang sekarang ini? Bahkan, pernah engga kamu menyadari bahwa orang yang sudah berlalu atau asal lewat dalam hidup kamu pun ternyata bisa kasih kamu makna? Meski kerasanya baru sekarang?
Ya, aku bilang gini soalnya aku juga ngerasain itu. Banyak orang dateng dan pergi dalam hidupku, dengan porsi mereka masing-masing. Entah itu bikin aku hepi, semangat, jengkel, marah, sakit hati, bahkan bikin aku menyesal karena pernah kenal dengan salah satu di antara mereka.
Tapi, engga bisa dipungkiri, seperti apapun porsi mereka, mereka ternyata tetep bisa kasih aku “sumbangan” untuk ngebentuk diri aku yang sekarang ini. Efek mengenal mereka ternyata bisa jadi panjang banget.
This is my story…
Sebut aja si R. Ada banyak manusia berawalan R yang singgah di hidupku. Salah satunya adalah dia. Aku pacaran sama dia 2 tahun yang lalu. Tidak lama dan memberiku kenangan yang kurang menyenangkan. Beberapa bulan yang lalu dia datang lagi dan memberiku sugesti bahwa hanya aku adalah untuk dia. Berbulan-bulan dia mencoba mengenalku dan membuatku ingin mengenal dia. Di tengah-tengah keras kepalaku, ditengah stresku karena pekerjaan, di tengah-tengah perhatianku ke orang lain dan ditengah-tengah ketidakrestuan, dia bersabar. Sampai akhirnya meskipun aku tidak jadi kembali ke hidupnya, dia tetap berhasil dengan luar biasa memberiku makna mendalam tentang apa itu daya tahan.
Atau si I. Aku kenal dia sudah ratusan tahun. Hihi, lebih tepatnya hampir 10 tahun yang lalu. Sebuah perkenalan yang biasa, di sebuah tempat kursus bahasa inggris, di jantung kota Surabaya. Masih sama-sama pake baju putih abu-abu, dengan gaya anak muda akhir tahun 90an. Beda sekolah, tapi selama 1,5 tahun selalu di kelas yang sama di tempat kursus. Bahkan memutuskan resign bersama. Itulah awal persahabatanku sama dia. Dia yang pertama kali mengajarkan “play hard”. Bukan dalam konotasi negatif, tapi dia memberiku makna apa itu bersenang-senang. Sungguh membantuku menjadi balance. Dia mengajakku mengenal dunia luas: dunia sosial dan entertainment. Dia juga memberiku makna pertemanan, terutama bersenang-senang dengan teman-teman. Mengajariku mempertahankan hubungan teman jangka panjang. Bahkan membantu memberiku 2 orang (mantan) pacar. Hahahaha… Sekarang pola pikirku sedang searah dengannya: work hard and play hard.
Bagaimana dengan si S? Ku sudah mengenalnya selama 8 tahun. Perkenalan di SMA, dimana aku dan dia masih sama-sama goblok dan tidak memikirkan sama sekali tentang masa depan. Tidak punya prinsip. Sekarang, aku sama dia sama-sama memutar keadaan 180 derajat. Kita sudah siap untuk menghadapi tahap kesuksesan selanjutnya. Dia memberiku makna untuk bekerja keras memperjuangkan pilihan hidup kita dan makna sukses di balik semua itu.
Lalu the Y? Manusia paling logis sekaligus paling hangat. Calon pemimpin yang hebat. Perkenalan 3 tahun lalu yang berawal dari sebuah sms singkat. Berlanjut ke telepon dan pendekatan. Ternyata, aku dan dia tidak jadi terikat dan hilang kontak selama 2 tahun. Aku sedikit patah hati. Awal tahun ini, tiba-tiba kita kontak lagi. Dia datang dengan pemikiran yang jauh lebih serius. Jika dia jodohku, aku akan menjadi istri yang merasa paling aman sedunia di bawah kepemimpinannya. Cuma dia yang bisa membuatku terkagum-kagum dengan pemikiran logisnya. Itu yang membuat dia selalu yakin dan tenang dalam membuat keputusan apapun. Dia memberiku makna cinta yang dewasa dan menjadi aktor profesional.
Si B? Tak disangka. Setelah 1 tahun bekerja bersama di tempat sebelumnya, berkonflik bersama dan berlatih membentuk karakter profesional bersama, akhirnya kami berpisah setahun yang lalu. Aku bekerja di perusahaan K dan dia bekerja di perusahaan H. Hilang kontak berbulan-bulan. Ealah, ternyata sekarang dia juga ada di Jakarta. Aku dan dia sama-sama berjuang lagi secara profesional di dunia kerja yang lebih luas. Pola pikir kita nyambung banget tentang kerjaan. Saat ini, dia banyak kasih input baru dan memberiku makna tentang kemandirian.
Yang terakhir si W. Cewek gila, bebas mengekspresikan dirinya dan selalu penuh percaya diri. Tanpa beban. Awalnya, kukira dia begitu menyenangkan dan selalu bisa menghidupkan suasana. Tapi, sudah kuduga, kebebasannya itu ada kalanya menjadi tanpa batas. Membuatku khawatir. Dia akhirnya melupakan etika dan norma pertemanan. Melupakan kepekaan perasaan orang terdekat karena terlalu menonjolkan kesenangan. Tidak serius. Dan akhirnya dia menusukku dari belakang. Merebut calon partnerku yang hebat. Hanya untuk bersenang-senang. Well, anyway, sejelek apapun dia, dia memberiku makna untuk memilih menjadi lebih dewasa daripada musuh kita.
Orang-orang ini masih segelintir dari mereka yang memberiku makna. Mungkin yang lain akan kutuliskan lagi di blog selanjutnya…. =)
Yup, aku setuju banget dengan tulisanmu ini..
Bahkan kita biasanya baru menyadari hal itu setelah orang tersbut akan hilang atau uda hilang dari kehipan kita. Dan akhrinya aku buat pepatah seperti ini, seseorang akan sangat berarti atau berharga setelah kita merasa kehilangan.
Salut juga ma kmu, bisa “mencuri” ilmu dari seburuk apapun orang itu. Tu aku tangkep dari tulisanmu si W. Dan memang se, seburuk-buruknya seseorang pasti memiliki kelebihan n seburuk-buruknya peristiwa pasti akan ada hikmahnya. Hanya orang-orang pilihan Allah yang bisa melihat kelebihan orang seburuk apapun dan mengambil hikmah dari suatu peristiwa. Hal hanya bisa dimiliki oleh orang-orang memiliki kelembutan n kepekaan hati dan pola pikir bagaikan gelas kosong, selalu haus dengan ilmu n tidak merasa paling pandai.
Dan seperti itulah kmu..
Salut..
Teruskan..
Dan klo bisa, belajar berpikir dengan hati..